Nurlaili Wulan Ramadhanti
Sejak tertangkap dan dihukum matinya tiga gembong teroris di Indonesia yakni Imam Samudra, Amrozi, dan Muchlas serta terbunuhnya dua tokoh penting perekrut dan perakit Bom, Dr Azari di Desa Batu Malang Jawa Timur tahun 2006 dan Nurdin M Top di Desa Jebres Solo Jawa Tengah tahun 2009, ternyata tidak membuat jaringan terorisme di negara kita tamat.
Nurdin M Top adalah tokoh penting yang terkenal sangat licik dan sulit untuk ditangkap, bahkan Tim Densus88 sempat gagal dan tertipu di berbagai usaha penyergapan untuk menangkapnya. Tapi akhirnya berbagai usaha dan upaya yang dilakukan untuk menangkap gembong teroris Nurdin M Top yang memang �TOP� ( karena sulit ditangkap) tersebut oleh pihak kepolisian Indonesia tidak sia-sia, pada penyergapan yang kesekian kalinya oleh Tim Densus88 di Desa Jebres Solo telah membuahkan hasil, dimana Nurdin M Top telah benar-benar tertangkap meskipun dalam keadaan tewas. Hal ini dianggap oleh rakyat Indonesia dan para pejabat tinggi di jajaran Kepolisian maupun pejabat Negara suatu prestasi yang sangat besar, sehingga Kapolri dan bahkan orang nomor satu di negara kita Indonesia yakni, bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan atas prestasi tersebut.
Dengan terbunuhnya Nurdin M top ternyata tidak menutup cerita kelam pemboman di Indonesia, bahkan baru-baru ini babak baru pemboman di Indonesia mulai tercium kembali. Gembong teroris terdengar beredar di sekitar daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), tepatnya di desa Pidi. Tentu saja Indonesia tidak tinggal diam, tim gabungan dari Kepolisian yang terdiri dari Brimob Mabes Polri Jakarta, Brimob Polda Aceh, dan Tim Densus88, Indonesia berusaha untuk melumpuhkan gembong teroris tersebut. Namun dalam baku tembak pada tanggal 6 Maret 2010 tersebut menelan korban di kedua belah pihak, baik dari pihak kepolisian maupun pihak teroris. Dari pihak kepolisian terdapat 3 korban jiwa, yaitu 2 orang dari anggota Brimob Polda Aceh dan 1 orang dari anggota Brimob Mabes Polri Jakarta. Sedangkan dari pihak teroris berhasil dilumpuhkan sebanyak 2 orang. Karena lokasinya yang dekat dengan pemukiman penduduk seorang warga sipil juga ikut tertembak akibat peluru nyasar.
Sampai saat ini masih belum diketahui dari mana asal usul jaringan teroris ini berasal. Ada yang mengatakan bahwa mereka berasal dari jaringan Al-Qaeda, jaringan Noordin M top, bekas anggota GAM yang berusaha untuk memberontak kembali, dan bahkan ada pula yang mengatakan bahwa gembong ini berasal dari Malaysia karena letak Provinsi Aceh yang dekat dengan laut perbatasan Indonesia-Malaysia. Pihak kepolisian dan Tim Densus88 masih terus mencari keberadaan gembong teroris yang diduga masih tersebar di sekitar Aceh, dalam hal ini mantan anggota GAM juga turut mengulurkan tangannya dalam memberantas terorisme yang mulai kembali mengancam Indonesia.
Dengan munculnya jaringan teroris di wilayah Naggroe Aceh Darussalam baru-baru ini, telah membuktikan bahwa penumpasan teroris di negara Indonesia belum tuntas sampai ke akar-akarnya, sehingga kita segenap bangsa Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan, karena penumpasan teroris tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak Kepolisian saja, tapi menjadi tanggung jawab seluruh komponen bangsa Indonesia. (S/11/3)
Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar