Intan Adhitiana
Di zaman yang serba modern ini, kita pasti memalukan banyak ilmu, tapi kadang kala kita pasti bertanya apakah kita memang punya banyak alas an untuk berada jauh dari obyektifitas dan perkembangan ilmu? Bukankah banyak sekali ahli, peneliti, insiyur, dokter, ekonom ternama juga keluaran universitas negeri kita?
Bukankah banyak karya terbaik dan bermanfaat dihasilkan, bahkan insiyur Departemen Pekerjaan Umum kita juga sudah meluncurkan alat penyaring air kotor praktis yang bisa digunakan para korban banjir dari manfaat ilmunya?
Dengan kemajuan teknologi yang memungkinkan kita untuk semakin mudah mengakses teori, riset, informasi, bukankah semestinya pengembangan ilmu semakin pesat dan bahkan sebaliknya semakin tumpul, bahkan kotor? Kita memang bisa melihat kemajuan dan pengembangan ilmu dari bagaimana aplikasi nyatanya dalam masyarakat.
Namun, pengaruh dunia pendidikan juga bisa kita lihat dari sikap terhadap masalah, cara berfikir, cara menganalisis, bahkan cara bicara. bila kita menyaksikan cara orang bertanya, tanpa diikuti pengambilan kesimpulan yang bermutu, cara orang berkomentar yang tidak didukung data tanpa rasa bersalah, kita memang perlu prihatin dengan kurang berpengaruhnya dunia pendidikan dalam perkembangan sikap intelek di masyarakat.
Tentu kita masih ingat dengan cerita telur Colombus. Saat Colombus mendemonstrasikan cara memberdirikan telur di depan cendekiawan Spanyol, yang tidak berhasil menjawab tantangannya tersebut, ini sebenarnya adalah proses penerimaan input, didapatkannya sebuah pemahaman baru dan pengambilan kesimpulan yang penting untuk pengayaan intelektualitas individu. (S/11/3)
Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar