Dania Athaya
Belum selesai pelaksanaan ujian Negara yang di anggap sebagai momok bagi sekelompok orang di dunia pendidikan, kita kembali tertampar dengan mencuatnya berita plagiat dalam penyusunan skripsi, tesis, bahkan disertasi doctor. Tugas akhir yang biasanya memakan pikiran jerih payah berbulan-bulan, memaksa kita unytuk membedah puluhan buku dan teori, senantiasa dipandang sebagai �masterpiece�-nya seorang mahasiswa, tidak lagi menjadi suatu yang �sakral� dan dengan mudahnya bisa di upahkan kepada orang lain. Hal yang mencenganghkan si �pemberi jasa� pembuatan skripsi dengan terang-terangan beriklan di Koran-koran, seakan sah-sah saja tindakan yang dilakukannya. Ada apa sebenarnya dengan perkembangan ilmu di negara kita, sehingga pelecehan, penyelewengan sekolah menjadi marak dan dianggap membudaya?
Kita mememang bisa melihat kemajuan dan pengembangan ilmu dari bagaimana aplikasi nyata dalam masyarakat. namun pengaruh dunia pendidikan juga bisa bikin kita teropong dari sikap terhadap masalah, cara berpikir, cara menganalisis, bahkan cara kita berbicara. Kadang kita menyaksikan cara orang bertanya, tanpa diikuti pengambilan kesimpulan yang bermutu, cara orang berkomentar yang tidak didukung data tanpa rasa bersalah, kita memang perlu prihatin dengan kurang berpengaruhnya dunia pendidikan dalam perkembangan sikap intelek di masyarakat kita.
Mungkin kita bisa saja semakin jauh dari sikap ilmiah bila kita tidak biasakan diri mengambil keputusan dan membaca. berdasarkan analisis di suatu perusahaan para manager hampir semuanya sarjana namun seringkali berbantah-bantahan dan berkomentar tanpa diperkuat data. Dan berujung masalah yang dihadapi tidak bisa diketahui mana akar dari permasalahan tersebut dan juga keputusan yang diambil tanpa data yang jelas. Dari hal tersebut dapat disimpulkan, �Hal ini baru terjadi dalam satu perusahaan bagaimana jika di dalam suatu negara?� dari sini kita dapat melihat lingkungan kerja kita sendiri anggaplah semua ini sebagai cerminan.
Mulai dari sekarang kita harus bisa mengajak teman-teman kita untuk lebih berfikir kreatif. Kita juga harus peduli untuk mengajak lingkungan mencari esensi permassalahan kemudian menghitung agar pengambilan resiko bisa pas.
Bila kita telah kembali, yang menjauhkan kita dari keilmiahan dan keintelelkan bukanlah mundurnya dunia pendidikan semata. Kita sendiri dan cara pergaulan kitalah yang menyebabkan kita tidak malu untuk ngawur, beralasan untuk tidak obyektif serta malas berfikir. Bila kondisi seperti ini kita pelihara, wajar saja bila para plagiator dan tukang sontek tidak terusik rasa malunya dan masih berani menepuk dada dan minta dielu-elukan. (S/11/1)
Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar